Go Set a Watchman – Harper Lee

“Aku hanya mencoba menjawab pertanyaan yang membuatmu lari. Biar kujelaskan sedikit terkait definisi itu. Apa yang dilakukan seorang fanatik saat dia bertemu dengan seseorang yang menentang keyakinannya? Dia tak mau menyerah. Dia tetap kaku. Tak mau mendengar, tapi langsung marah. Nah, lihat dirimu, dikacaukan oleh ayah yang kau puja, jadi kau lari. Dan, kau lari kencang sekali.”

Sebenarnya buku ini membawa isu yang berat – rasisme. Tentang orang-orang kulit putih yang menekan populasi kaum negro dengan senjata hukum dan konstitusi. Dan bagaimana seorang kulit putih – buta warna sejak lahir, bersikap dan menyuarakan  nuraninya, melawan ayahnya, kekasihnya, keluarganya dan kota kecil tempat dia dilahirkan, yang ironisnya, telah berjasa menanamkan nurani yang dia anut saat ini.

Diawali dengan flashback masa kecil Jean Louise yang penuh dengan kenakalan dan kasih sayang keluarganya, bagaimana figur ayahnya, kekasihnya, keluarganya tergambar seperti sebuah keluarga di Selatan pada umumnya. Dan bagaimana New York membentuknya menjadi perempuan cerdas yang menuruti nuraninya.

Ketika dia kembali pulang ke Maycomb dan mendapati figur ayahnya, kekasihnya, dan keluarganya runtuh berlawanan dengan nuraninya, Jean Louise didera penderitaan yang membawanya melihat lebih dekat sekaligus jauh, dengan nurani dan realita yang terjadi di Maycomb, di semua bagian Selatan.

Sebuah pergulatan emosional yang memaksa kita sebagai pembaca turut melihat lebih dekat dan jauh, antara nurani kita sebagai manusia dengan realita, dan bagaimana menyeimbangkannya agar tidak ada seorang pun yang teraniaya.


Buku setebal 288 halaman ini berukuran seperti buku tulis kita semasa masih di sekolah dasar dulu. Untuk saya yang menyukai kegiatan membaca buku sebagai pengisi waktu dalam perjalanan panjang, ukuran ini tidak terlalu nyaman dalam genggaman dan pangkuan. Buku yang saya baca ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, dan saya memberi nilai 7/10 untuk hasil terjemahan karena saya sempat bosan dan merasa mungkin saya tidak akan bisa menyelesaikan buku ini. Namun saya mengabaikan kemampuan biasa-biasa-saja saya dalam mencerna kalimat dan berhasil selesai membaca Go Set A Watchman. Terima kasih, neuronku!

Buku ini memang layak menjadi karya klasik yang patut dibaca setidaknya sekali seumur hidup. Saya terpesona pada beberapa plot twist yang disajikan penulis meski lumayan terganggu dengan ending nggantung dan flashback ke masa kecil yang terlalu banyak. Saya merasa isu rasisme yang disajikan hanya seperti appetizer: sedikit tetapi meninggalkan kesan mendalam. Saya masih merasa 'lapar' untuk mengetahui kelanjutan pilihan hidup yang diambil Jean Louise pada akhirnya.

Berikut saya kutip nasihat yang Paman Jack berikan kepada Jean Louise yang ngena banget di hati saya dan saya putuskan untuk ditampilkan di sini:
"Saat kau berhenti berlari, Jean Louise, dan berbalik, tindakan itu butuh keberanian besar. Oh, bukan jenis keberanian yang mendorong seorang serdadu maju ke garis depan. Itu adalah keberanian yang muncul karena terpaksa. Ini keberanian yang – yah, bagian dari keinginan seseorang untuk hidup, bagian dari naluri bertahan hidup. Kadang, kita harus sedikit membunuh agar bisa hidup, saat kita tak melakukannya – saat perempuan tak melakukannya, mereka menangis sampai tertidur dan meminta ibu mereka menghibur setiap hari."


*saya masih baru dalam membaca buku dan reviu ini murni opini pribadi saya. Gambar bukan koleksi pribadi dan diambil dari internet.

Komentar